Showing posts with label Coaching. Show all posts
Showing posts with label Coaching. Show all posts

21 January 2011

Fundamental Passing

Basket adalah permainan tim. Dari definisi tersebut berarti semua pemain yang terlibat dalam permainan harus bekerja sebagai suatu kesatuan. Untuk mencapai tujuan tersebut, para pemain harus menguasai salah satu keterampilan utama dalam permainan basket, yaitu passing. Meskipun demikian, passing sering kali masih jarang menjadi fokus para pelatih saat melatih timnya.

Pemain selalu berasumsi pada nilai-nilai yang pelatih tanamkan di setiap aspek permainan. Ketika melatih passing, seharusnya pelatih tidak hanya mengajarkan keterampilan, tetapi juga mentalitas. Banyak pemain berpikir passing sebagai sesuatu yang harus dilakukan ketika mereka tidak memiliki tembakan, bukannya suatu tindakan yang tidak egois yang dirancang untuk melibatkan pemain lain.

Ketika melatih pemain muda, pelatih harus menyadari keterbatasan fisik dan mental para pemain. Pemain muda biasanya kurang memiliki kekuatan yang diperlukan dan mereka masih mengembangkan rasa ruang dan waktu. Selain itu, keterampilan mereka mengenali kesempatan passing hanya bisa diasah oleh pengalaman. Kesempatan passing yang terlihat terbuka sering tidak dimanfaatkan oleh mereka karena mereka tidak memiliki pengalaman untuk mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melakukan passing dari titik A ke titik B dan bahkan seringkali menghasilkan passing yang buruk karena mereka terlalu lambat mengenali kesempatan passing.

Dalam kasus lainnya, kegagalan dari usaha passing sebelumnya sering menjadikan mereka terlalu berhati-hati untuk melakukan passing berikutnya. Hal ini mempunyai efek jangka panjang bisa menjadikan pemain tidak memahami nilai penting dari passing.

Jenis Passing

Pada dasarnya ada dua jenis passing:
  • Air Pass - passing yang antar pemain tanpa memantul lantai.
  • Bounce Passes - passing yang dilemparkan ke lantai sehingga memantul ke penerima yang dimaksudkan.
Setiap jenis passing mempunya beberapa variasi.

Variasi Dasar:
  • Dada Pass
  • Bounce Pass
  • Overhead Pass
  • Wrap Around Pass

Variasi Tingkat Lanjut:
  • Baseball Pass
  • Dribble Pass
  • Behind-the-Back Pass
  • Pick-dan-Roll Pass

Dasar Passing

Chest Pass
Dinamai demikian karena passing ini dilakukan dari dada. Sebelum dilemparkan bola dicengkeram di kedua sisi dengan ibu jari tepat di belakang bola. Ketika passing dilakukan, jari-jari yang diputar di belakang bola sampai ibu jari menghadap ke bawah. Hasil akhirnya adalah bagian belakang tangan saling berhadapan dengan ibu jari lurus ke bawah. Dengan demikian bola akan memiliki backspin (putaran ke belakang) yang bagus.

Bounce Pass vs Chest Pass

Ketika melakukan chest pass, para pemain harus berusaha untuk mengarahkannya ke dada penerima. Passing dari rendah ke tinggi atau tinggi ke rendah akan sulit untuk ditangkap.

Bounce Pass
Bounce pass dilemparkan dengan gerakan yang sama namun ditujukan ke lantai. Ini harus dilakukan dari jarak yang cukup jauh sehingga bola memantul sampai setinggi pinggang penerima. Ada yang mengatakan, titik pantul optimal adalah 3/4 jarak dari pengumpan ke penerima, dan mungkin dapat dijadikan referensi yang baik untuk memulai latihan bounce pass, tapi setiap pemain harus melakukan percobaan sehingga dapat diketahui seberapa jauh bola diumpankan sehingga memantul ke penerima dengan benar. Dengan melakukan passing yang tepat dan konsisten akan membuat para pemain menentukan titik pantul.

Overhead Pass
Overhead pass sering digunakan sebagai outlet pass (passing yang digunakan sebagai awal fast break). Bawa bola langsung di atas dahi dengan kedua tangan di sisi bola. Sasarannya adalah dagu penerima. Beberapa pelatih menyarankan untuk tidak membawa bola di belakang kepala, karena memakan waktu sepersekian detik lebih lama dan bisa dicuri lawan.

Overhead Pass

Wrap Around Pass
Langkahkan kaki non-pivot di samping pemain bertahan. Umpankan bola dengan satu tangan (tangan luar). Passing ini dapat digunakan sebagai air pass atau bounce pass. Anda akan sering melihat wrap-around air pass dari pemain post ke perimeter dan wrap-around bounce pass untuk sebaliknya.


Baseball Pass
Sebuah baseball pass adalah passing menggunakan satu tangan yang gerakannya sama seperti melempar bola baseball. Passing ini sering digunakan untuk jarak yang jauh. Anak-anak harus lebih berhati-hati jika ingin melakukan passing jenis ini karena bisa menyebabkan tangan mereka cidera.
Baseball Pass

Dribble Pass
Dribble pass digunakan untuk melakukan passing dengan cepat dengan satu tangan yang digunakan untuk dribble bola. Passing ini bisa bersifat air pass atau bounce pass. Salah seorang bintang NBA yang sering melakukan passing ini adalah Steve Nash.

Behind the Back Pass
Behind the Back Pass adalah passing yang dilakukan melalui bagian belakang punggun pemain. Hal ini digunakan sebagai alternatif untuk menghindari pemain bertahan ketika passing dari bagian depan akan berisiko. Hal ini juga dapat digunakan untuk melempar bola ke pemain sisa pada berbuka puasa.

Saya tidak merekomendasikan untuk menggunakan passing ini selama pemain benar-benar menguasainya.

Pick and Roll Pass
Ini adalah passing yang digunakan ketika lawan melakukan double team saat terjadi pick and roll. Jika menggiring bola ke kanan, sisi kiri pemain menghadap target dan dribble bola dilakukan di sisi kanan, selanjutnya bola diumpankan ke pemain yang melakukan screen (screener) yang bergeraka ke ring basket atau ke perimeter melintasi bagian atas pemain bertahan atau dengan menggunakan bounce pass. Passing ini digunakan untuk melindungi bola dari pemain bertahan, dan bola diumpkan dengan gerakan yang mirip dengan "hook shot".

Titik penekanan pelatih saat mengajarkan passing adalah:
  • Sebuah passing yang baik adalah passing yang bisa ditangkap oleh rekan satu tim.
  • Ketika melakukan passing, kaki melangkah menuju penerima.
  • Saat menangkap, kaki penerima melangkah menuju pengumpan.
  • Seperti menembak, bola harus memiliki backspin. Hal ini dicapai dengan gerakan follow through setiap melakukan passing.

19 November 2010

Menyerang Zone Defense

Zone defense biasanya memberikan masalah tersendiri bagi pelatih baru. Dari berbagai pengalaman, formasi zone defense yang sering diterapkan adalah: 2-3, 1-3-1, 3-2, 1-1-3, 2-1-1, dan 1-2-2. Pelajaran utama yang saya dapatkan ketika menghadapi lawan dengan strategi zone defense tersebut adalah: ketika bola berada di area corner, setiap formasi zone defense berubah menjadi 1-2-2! Berdasarkan hal tersebut, kita dapat mengembangkan "Filosofi Serangan Terhadap Zone Defense", yang akan membahas berbagai topik sebagai berikut:
  • Prinsip serangan terhadap zone defense.
  • Strategi offense untuk melawan zone defense.
  • Set play yang bisa diterapkan untuk melawan zone defense.
Prinsip Serangan Terhadap Zone Defense

Prinsip yang diajarkan kepada para pemain bertujuan untuk menjadikan para pemain seagresif mungkin ketika menghadapi zone defense. Prinsip-prinsip tersebut adalah:

Prinsip Pertama: Manfaatkan serangan fast break.

Prinsip Kedua: Perbanyak perpindahan bola dari salah satu sisi lapangan ke sisi lainnya, dengan begitu akan dapat diketahui pemain lawan mana yang terlalu lambat melakukan penjagaan (lazy man).

Prinsip Ketiga: Gunakan dua jenis penetrasi, dribble dan pass, sehingga akan mempersulit lawan melakukan penjagaan.

Prinsip Keempat: Perhatikan spacing (jarak antar pemain) optimal, 3 sampai 4 meter. Hal ini akan mempermudah pergerakan bola, pergerakan pemain, dan keseimbangan dalam melakukan offense. Spacing yang bagus juga akan membuat lawan bekerja ekstra keras.

Prinsip Kelima: Rebound! Salah satu kelemahan dari zone defense adalah ketidakjelasan penugasan block out. Oleh karena itu, instruksikan kepada pemain, terutama pemain forward dan center, untuk selalu berusaha mendapatkan offensive rebound.

Prinsip Keenam: Screen bisa diterapkan ketika menghadapi lawan yang menerapkan zone defense. Dengan screen yang benar akan terjadi kesempatan melakukan shoot yang lebih terbuka, sehingga dapat meningkatkan persentase masuknya bola.

Prinsip Ketujuh: Eksplorasi area di belakang zone defense (baseline di area short corner). Penempatan pemain di area tersebut sangat sulit diantisipasi oleh lawan, terutama saat melakukan block out atau rebound, ditambah dengan kemungkinan pemain tersebut melakukan flash cut ke high post.

Prinsip Kedelapan: Bermainlah inside out dan bukan outside in! Paksa zone defense untuk mengantisipasi permainan dalam terlebih dahulu.

Prinsip Kesembilan: Sabar. Usahakan untuk menciptakan kesempatan shoot yang terbuka, jangan hanya sekedar melakukan shoot. Shoot yang dilakukan dengan tergesa-gesa sangat menguntungkan zone defense.

Strategi Offense Untuk Melawan Zone Defense

Ada dua jenis zone offense yang dapat diterapkan: gap (celah) dan gap motion. Gap offense adalah offense yang bersifat stasioner di mana setiap pemain menempatkan dirinya pada celah di antara dua pemain bertahan. Hal ini bertujuan untuk memancing dua pemain bertahan berpindah tempat dan menciptakan kesempatan shot melalui penetrasi menggunakan dribble. Pergerakan bola dan gerak tipu merupakan elemen yang sangat penting pada offense jenis ini. Offense kedua yang bisa diterapkan untuk menghadapi zone defense adalah gap motion, yang mirip dengan jenis offense yang pertama. Prinsip utama offense ini adalah spacing yang baik serta penempatan pemain di antara dua pemain bertahan. Pada gap motion, pelatih memberikan kebebasan pada pemainnya untuk bergerak secara acak. Hal ini menyebabkan offense jenis ini lebih sulit untuk diantisipasi karena tidak menerapkan suatu pola serangan tertentu. Para pemain lebih memiliki keleluasaan melakukan cut dan screen (dengan tujuan). Penetrasi menjadi lebih berpengaruh terhadap kesuksesan offense ini. Pemain post sering bermain di posisi baseline area short corner. Posisi di belakang zone defense ini memberikan dua keuntungan:
  • Mendapatkan sudut screen yang lebih baik (karena datang dari sisi yang tidak diketahui oleh lawan).
  • Sering menjadi area yang luput dari penjagaan pemain bertahan.

Set Play yang Bisa Diterapkan Untuk Melawan Zone Defense

Set play bisa menjadi senjata ampuh untuk menembus zone defense karena mempunyai beberapa keuntungan antara lain:
  • Pelatih dan pemain mengetahui siapa yang akan mengeksekusi shoot.
  • Pelatih dan pemain mengetahui di mana shoot akan dilakukan, sehingga memberikan pemain lainnya untuk bersiap melakukan rebound.
  • Semua pemain telah berada dalam posisi yang seharusnya sebelum strategi dijalankan, sehingga tingkat keberhasilan mencetak poin lebih maksimal.

Berikut ini adalah contoh set play yang bisa diterapkan. Jika dijalankan dengan benar, strategi ini sangat sulit diantisipasi oleh zone defense.

Timing, spacing, dan koordinasi pergerakan sangat penting untuk efektivitas strategi ini. Nama set play ini adalah:
    Z1, ditunjukkan oleh Gambar 1 sampai dengan Gambar 6.

    Gambar 1
    Gambar 2
    Gambar 3
    Gambar 4
    Gambar 5
    Gambar 6

    Z2, ditunjukkan oleh Gambar 7 sampai dengan Gambar 12.

    Gambar 7
    Gambar 8
    Gambar 9
    Gambar 10
    Gambar 11
    Gambar 12

    Z3, ditunjukkan oleh Gambar 13 sampai dengan Gambar 19.

    Gambar 13
    Gambar 14
    Gambar 15
    Gambar 16
    Gambar 17
    Gambar 18
    Gambar 19

    Z4, ditunjukkan oleh Gambar 20 sampai dengan Gambar 24.

    Gambar 20
    Gambar 21
    Gambar 22
    Gambar 23
    Gambar 24

    Z5, ditunjukkan oleh Gambar 25 sampai dengan Gambar 31.

    Gambar 25
    Gambar 26
    Gambar 27
    Gambar 28
    Gambar 29
    Gambar 30
    Gambar 31

    31 August 2010

    Konsep Defense

    Ada tujuh konsep defense yang harus diperhatikan pada sistem defense suatu tim, sehingga bisa dijadikan sebagai fondasi dasar dari filosofi defense seorang pelatih. Apapun jenis defense-nya, apakah man to man atau zone defense.

    1. Cepat kembali ke area defense

    Bagian paling penting dari defense adalah seberapa cepat suatu tim dapat melakukan transisi dari offense ke defense. Banyak tim sangat lambat kembali ke area defense karena pelatihnya mengabaikan bagian ini.

    Konsep pertama zone defense adalah segera kembali ke area defense sehingga memaksa lawan selalu menghadapi lima defender setiap kali menyerang. Jangan membiarkan lawan mendapat situasi di mana jumlah mereka lebih banyak dari defender, misalnya dua lawan satu, atau tiga lawan dua.

    2. Komunikasi

    Komunikasi bagaikan perekat dalam setiap sistem defense. Komunikasi adalah suatu proses yang berkesinambungan dan merupakan bagian yang paling sulit dilatih ketika membentuk sistem defense. Membuat suasana di mana para pemain saling berkomunikasi di lapangan harus diupayakan setiap hari.

    Pelatih NBA dekade 70an, Red Holzman mengatakan “Bola basket adalah permainan di mana penggunaan pikiran, tubuh, dan suara merupakan hal yang sama pentingnya.” Berkomunikasi saat melakukan defense membantu New York Knicks memenangkan juara NBA di tahun 1970 dan 1973. Pelatih NBA lainnya, Del Harris, percaya bahwa tidak akan pernah ada “silent defense” yang berhasil.

    3. Upayakan bola tetap di luar Zona Merah

    Area yang paling berbahaya di lapangan adalah elbow dan block. Setiap tim offense selalu menyerang melalui area ini karena area ini sangat rentan. Keberhasilan defense bergantung dari upaya tim defense menghalau penguasaan bola dari area ini.

    4. Berikan tekanan kepada pemain lawan yang menguasai bola

    Landasan dari setiap defense adalah tekanan yang dilakukan kepada pemain lawan yang menguasai bola. Bagian ini merupakan bagian paling penting dari konsep defense secara individual. Tujuannya adalah membuat lawan selalu berada di bawah tekanan sehingga konsentrasi dan pandangan mereka terganggu.

    5. Mengantisipasi penetrasi

    Salah satu tugas yang paling sulit saat melakukan defense adalah menerapkan pressure tetapi di saat yang sama juga harus mengantisipasi penetrasi lawan. Kuncinya adalah tetap menjaga keseimbangan dan mempertahankan jarak antara defender dengan pemain lawan.

    6. Ganggu setiap lawan melakukan shooting

    Hal ini akan mengurangi persentase keberhasilan shooting lawan dan meningkatkan kesempatan tim untuk memenangkan pertandingan. Di tahun 2005, studi yang dilakukan Pim, Coughlin, Fielitz, dan Fry, 477 pertandingan Divisi I Amerika dianalisa faktor statistik mana yang paling berpengaruh dan menentukan kemenangan atau kekalahan suatu tim. Tim dengan persentase memasukkan bola lebih rendah mengalami 356 kekalahan dari 477 pertandingan, atau 74,6 persen.

    7. Hindari memberikan kesempatan kedua

    Tim basket yang sukses selalu mencegah lawannya mendapatkan kesempatan kedua untuk melakukan shooting. Mereka mencegah pemain lawan untuk melakukan offensive rebound dengan melakukan block out dan kemudian selalu mengejar bola. Dean Lockword dari University of Tennessee Lady Vols menyebut teknik ini dengan “hit and get”. Dengan kata lain, defender harus melakukan kontak terlebih dahulu dengan lawan setelah terjadi shooting, dan kemudian berusaha mendapatkan penguasaan bola.

    Tom Crean, pelatih dari Marquette University, percaya bahwa tim akan mempunyai kesempatan 50 persen mencetak angka pada kesempatan kedua, dan 80 persen pada kesempatan ketiga. Karena tingginya tingkat persentase ini ini, maka Crean melakukan latihan block out setiap hari.

    George Raveling, mantan pelatih Washington State, Iowa, dan Southern California, menuliskan pada bukunya yang membahas tentang rebound di tahun 1972 berjudul War on the Boards. Raveling menjelaskan bahwa rebound adalah pertarungan fisik di mana 75 persen berasal dari keinginan dan 25 persen dari kemampuan pemain.

    02 February 2010

    Momen Zone Defense

    Di saat ingin menyiapkan sistem defense pada suatu tim, pelatih harus selalu mempertimbangkan tentang penggunaan satu atau lebih zone defense. Pelatih harus menemukan zone defense yang ingin diajarkan, sesuai dengan kemampuan teknik dan fisik dari para pemain.

    Meskipun sebaiknya zone defense tidak dijadikan strategi defense utama, tetapi zone defense masih dapat digunakan sebagai senjata dalam sebuah pertandingan. Kadang-kadang, dalam sebuah pertandingan, pelatih dapat menggunakan zone defense dalam situasi tertentu, misalnya saat throw in atau setelah melakukan free throw, selain itu zone defense dapat diterapkan ketika man-to-man defense yang diterapkan tidak berjalan efektif.

    Pelatih dapat menggunakan zone defense ketika:
    • Ingin mengubah ritme pertandingan.
    • Ketika perbandingan kemampuan teknik dan fisik yang terlalu mencolok antar pemain kita dan pemain lawan, sehingga sering terjadi mismatch.
    • Ketika tim kita sulit membendung serangan lawan dari low post maupun high post.
    • Ketika tim kita tidak bisa mencegah permainan pick and roll yang diterapkan oleh lawan.
    Jadi memilih momen yang tepat dalam menerapkan zone defense merupakan hal yang sangat penting. Jika dipikir bahwa zone defense yang diterapkan dapat merepotkan lawan, maka sebaiknya zone defense tersebut tidak diubah, meskipun lawan mampu mencetak angka, berikan waktu kepada pemain untuk memahami pergerakan lawan terlebih dahulu sehingga pemain kita dapat melakukan antisipasi secara tepat.

    16 December 2009

    Motion Offense 4-out, 1-in

    1) Motion offense ini dapat bekerja dengan baik melawan defense man-to-man.

    Untuk memainkannya, setidaknya harus ada empat pemain yang mempunyai kemampuan penguasaan bola.

    Motion offense ini dapat dimulai dari kedua sisi lapangan.

    Dua pemain yang berada di ujung area key adalah guard, sedangkan dua pemain lainnya yang berada di area wing adalah forward, dan pemain di area high-post adalah center.

    Aturan 1:
    Setiap pass dari guard ke guard yang lainnya diikuti dengan screen away (screen menjauhi arah pass) untuk pemain forward.

    Pemain forward harus terlebih dahulu melakukan sebuah jab step mengarah ke ring basket supaya screen yang dilakukan lebih efektif.

    Dengan penerapan Aturan 1 maka akan terjadi pergantian posisi antara guard dan forward di salah satu sisi lapangan.

    2) Disamping adalah penerapan Aturan 1 untuk arah passing yang berlawanan.

    Pemain center harus selalu berada di antara bola dan pemain yang menjaganya.

    3) Aturan 2:
    Setiap terjadi pass dari guard ke forward, maka guard akan melakukan screen away untuk pemain guard lainnya. Pemain guard yang mendapatkan screen melakukan cut ke dalam dan bersiap menerima bola dari pemain forward untuk diteruskan dengan power lay-up.

    Pastikan guard tersebut sebelumnya mendapatkan dua kali screen dengan benar, yaitu dari pemain guard, yang sebelumnya melakukan pass, dan dari center.

    4) Guard yang telah melakukan screen secepatnya kembali ke posisi semula untuk memberikan opsi pass oleh pemain forward.

    Jika guard yang melakukan cut tidak mendapatkan bola, maka harus terus berlari ke arah wing, sedangkan pemain forward yang sebelumnya berada di area wing bergerak ke ujung area key, rangkaian gerakan rotasi ini disebut dengan wheel.

    Sama seperti penerapan Aturan 1, gerakan-gerakan ini menyebabkan pergantian posisi guard dan forward di salah satu sisi lapangan.

    5) Setelah terjadi wheel, pemain center melakukan cut ke low-post dan coba melakukan post-up untuk bersiap menerima pass dari pemain forward.

    6) Ketika bola dikembalikan dari forward ke guard, maka center kembali ke posisi semula dan dan motion offense dapat diulangi.

    7) Aturan 3:
    Setiap pass dari guard ke high post selalu diikuti dengan gerakan split the post atau nama lainnya adalah scissor cut.

    8) Pemain guard yang tidak melakukan pass pertama kali cut dan pemain forward di sisi lapangan yang sama menggantikan posisinya.

    9) Kemudian guard yang melakukan pass menyusul cut dan pemain forward yang berada di sisi lapangan yang sama juga menggantikan posisinya.

    10) Dengan Aturan 3 didapatkan tiga opsi serangan, yaitu:
  • Hand-off dengan pemain guard pertama.
  • Hand-off dengan pemain guard kedua.
  • Permaian one-on-one antara pemain center yang pemain yang menjaganya.

    Jika dari ketiga opsi tersebut tidak dapat dijalankan maka bola dikembalikan ke luar kemudian motion offense dapat diulangi lagi.

  • 11) Perhatikan, setiap aturan hanya akan menyebabkan pergantian posisi guard dan forward di salah satu sisi lapangan.

    Strategi offense ini bisa juga disebut sebagai continuity offense karena serangan yang dilakukan bersifat kontinyu dan setiap serangan akan kembali ke posisi semula.

    Keuntungan penerapan strategi offense ini adalah ketika dalam suatu tim hanya terdapat sedikit pemain post dan banyak pemain perimeter yang tidak mempunyai kemampuan shoot jarak jauh.

    Selain itu offense ini dapat digunakan untuk memperlambat tempo pertandingan, tentu saja akan bermanfaat jika diterapkan pada akhir-akhir pertandingan di mana situasi tim sedang unggul.

    Melakukan offense ini dengan sabar terkadang membuat lawan menjadi lengah, sehingga defense yang mereka lakukan menjadi lebih mudah dikalahkan.

    Motion offense ini relatif mudah diajarkan meskipun biasanya di awal-awal penerapannya sering memusingkan pemain. Tetapi dengan latihan yang rutin akan membuat para pemain menjadi terbiasa.

    Dengan melatih motion offense ini (atau motion offense lainnya) pemain akan belajar melakukan gerakan tanpa bola (moving without the ball) dan spacing.

    10 December 2009

    Set Motion Offense

    Motion offense dapat dimulai dari berbagai set formasi, seperti yang digambarkan di bawah ini.

    Set 3-out, 2-in

    Set ini memiliki tiga pemain perimeter dan dua pemain post. Hal ini akan memberikan keseimbangan antara penyerangan dari luar maupun dalam, serta kesempatan melakukan offensive rebound yang lebih baik.


    Jika dalam suatu tim terdapat lima pemain yang bisa bermain di semua posisi, maka mereka dapat saling bertukar posisi atau berotasi. Jika hanya terdapat dua pemain post yang bagus, maka rotasi dilakukan antar sesama pemain post, sedangkan tiga pemain perimeter melakukan rotasi di luar area three-point.

    Set 4-out, 1-in

    Set ini menggunakan empat pemain perimeter dan satu pemain post, sehinnga menjadikan set ini sangat baik diterapkan jika dalam satu tim mempunyai banyak pemain perimeter tetapi hanya memiliki sedikit pemain post.


    Set ini bisa menyebabkan situasi satu lawan satu di area post (post-up) yang sangat menguntungkan jika terjadi situasi mismatch. Misalnya, jika ada seorang pemain defensive yang telah melakukan empat kali foul, maka tempatkan satu orang pemain offensive yang dijaganya bermain sebagai pemain post. Kemudian pass bola ke pemain tersebut sehingga tercipta situasi satu lawan satu. Dengan demikian kesempatan mencetak angka lebih besar karena pemain defensive sedang dalam kondisi foul-trouble sehingga defense yang dilakukan akan lebih longgar, atau setidaknya mampu memaksa pemain defensive tersebut melakukan foul yang kelima (foul-out).

    Set 5-Out

    Ketika dalam suatu tim tidak terdapat pemain post yang tinggi, maka set ini bisa diterapkan. Set ini sangat menguntungkan jika dalam suatu tim terdapat pemain-pemain yang memiliki orientasi bermain sebagai pemain perimeter dan mempunyai kecepatan dan kemampuan yang baik.

    01 December 2009

    Keuntungan Motion Offense

    Strategi offense dalam permainan bola basket telah berkembang pesat sejak masa permulaan olahraga ini di tahun 1940an dan 1950an. Menciptakan strategi offense membutuhkan waktu dan kreativitas, selain itu, juga perlu mempertimbangkan sifat dan kemampuan pemain yang ada dalam tim. Pelatih yang baik mampu menempatkan dalam posisi di mana seorang pemain dapat 'sukses', dalam hal ini sukses bukan berarti hanya mencetak angka. Setiap pemain mempunyai kemampuan yang bersifat unik. Jika kemampuan-kemampuan mereka dimaksimalkan, maka hasilnya adalah mesin offensive yang sangat hebat.

    Memilih jenis offenses seharusnya menjadi perhatian utama seorang pelatih. Strategi offense yang diandalkan akan menentukan kesuksesan tim (tentu saja bersamaan dengan strategi defense). Motion offense memberikan fleksibilitas dan dapat menyebabkan tekanan pada tim lawan.

    Berikut ini adalah 15 keuntungan yang didapatkan dari motion offense.

    Kenapa memilih motion offense?
    1. Motion offense memberikan ruang bagi daya kreativitas dan imajinasi. Membuat offense menjadi tidak membosankan.
    2. Motion offense menjadikan intelegensi sebagai sebuah aset penting. Pemain dengan kemampuan high basketball IQ dapat menerapkan motion offense dengan baik.
    3. Motion offense menggabungkan dan menekankan pada kemampuan-kemampuan fundamental, terutama triple theat.
    4. Motion offense mampu digunakan untuk mengalahkan lawan jika diterapkan dengan tidak terburu-buru.
    5. Motion offense memberikan kesempatan melakukan shooting yang lebih terbuka sehingga dapat meningkatkan persentase field goal.
    6. Motion offense sangat tidak dapat diprediksi karena setiap penguasaan bola bersifat unik.
    7. Motion offense tidak mungkin bisa diamati oleh tim lawan, hal ini dikarenakan setiap penguasaan bola menyebabkan pergerakan yang berbeda-beda.
    8. Motion offense bisa membuat lawan kelelahan, sehingga menyebabkan strategi offense lawan menjadi tidak produktif.
    9. Motion offense bisa membentuk pemain muda menjadi pemain dengan kemampuan yang lengkap, karena strategi ini membutuhkan 3 kemampuan dasar offensive (shoot, pass, ball handle) sehingga perkembangan pemain menjadi lebih menyeluruh.
    10. Motion offense dapat memberikan kemenangan perang mental di lapangan. Mampu memenangkan perang mental dalam suatu pertandingan adalah karateristik sebuah tim yang bagus.
    11. Motion offense bersifat unik dan sangat menantang untuk diajarkan, dan akan membuat setiap pelatih terus belajar. Pelatih diharuskan terus mengembangkan dirinya dengan mempelajari konsep dan cara bermain yang baru.
    12. Motion offense membuat tim mempunyai defense yang lebih baik. Hal ini dikarenakan motion offense adalah strategi yang paling sulit dijaga, sehingga defense tim akan selalu berkembang di setiap latihan.
    13. Motion offense menciptakan banyak peluang free throw.
    14. Motion offense seperti bongkahan tanah liat yang bisa dibentuk sesuai dengan kepribadian tim.
    15. Motion offense juga dapat diterapkan untuk melawan zone defense secara efektif.

    29 November 2009

    Motion Offense

    Motion offense adalah salah satu kategori skema offensive yang digunakan dalam permainan bola basket. Motion offense menggunakan pergerakan pemain, strategi ini sering kali mengeksploitasi kecepatan tim offense atau untuk menetralisir keuntungan postur tubuh yang dimiliki oleh tim defense.

    Motion offense berbeda dengan continuity offense karena dalam motion offense tidak mempunyai pola yang berulang-ulang. Akan tetapi, motion offense bersifat bebas mengalir dan tidak ada batasan, dengan mengikuti beberapa aturan. Berikut ini adalah contoh aturan dasar yang biasa digunakan:

    • Pass and screen away: Pemain melakukan pass ke salah satu sisi lapangan kemudian diteruskan dengan melakukan screen kepada pemain yang berada di sisi yang lain. Tujuannya adalah untuk menjaga spacing dan menciptakan kesempatan melakukan shoot atau drive ke dalam.
    • Back screen: Pemain yang berada di low post melakukan screen kepada pemain yang berada di area wing sehingga dapat membuat kesempatan melakukan cut ke dalam.
    • Flare screen: Pemain perimeter yang sedang tidak menguasai bola melakukan screen (biasanya di area sekitar elbow) kepada pemain lainnya yang juga sedang tidak menguasai bola di area three-point.

    Asal mula motion offense

    Asal mula motion offense sampai saat ini masih diperdebatkan. Meskipun penghargaan sering kali diberikan kepada Hank Iba, mantan pelatih kepala di tim bola basket Oklahoma State Cowboys. Akan tetapi banyak yang percaya bahwa motion offense sudah dikembangkan lebih dulu oleh pelatih-pelatih Harlem Renaissance, sebuah tim basket yang terdiri dari orang Afro-Amerika pada tahun 1920an dan 1930an. Pada kenyataannya, Harlem Renaissance adalah tim basket pertama yang menjuarai World Championship Professional Basketball Tournament yang diadakan pada tahun 1939, dan pada saat itu mereka menggunakan motion offense.

    Motion offense versi Hank Iba

    Tim yang dipimpin oleh Hank Iba bersifat metodis (dilakukan sesuai dengan metode), pemain menguasai bola dengan pola weave. Penggunaan motion offense bersamaan dengan defense yang agresif biasa dilakukan oleh Hank Iba ketika dia mengantarkan Oklahoma State Cowboys menjadi juara NCAA pada tahun 1945 dan 1946, menjadikannya sebagai tim NCAA pertama yang berhasil menjadi juara secara berturut-turut. Dia juga terpilih sebagai Coach of the Year di tahun 1945 dan 1946. Tim Oklahoma State Cowboys pada saat itu dipimpin oleh Bob Kurland, pemain NCAA pertama yang memiliki tinggi 7 kaki. Selama 36 tahun masa jabatan Hank Iba sebagai pelatih kepala di Oklahoma State Cowboys (1934–1970), strategi motion offense yang dia terapkan juga memberikan 655 kemenagan. Dia juga pernah melatih tim nasional basket Amerika ketika memenangkan medali emas di ajang Olimpiade pada tahun 1964 dan 1968, menjadikannya sebagai pelatih pertama dalam sejarah yang berhasil memenangkan dua medali emas di ajang Olimpiade.


    Motion offense versi Bob Knight

    Pelatih kepala terkemuka lain yang juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan motion offense adalah Bob Knight. Knight telah menggunakan motion offense dan mencapai berbagai kesuksesan selama 40 tahun karirnya sebagai pelatih kepala di United States Military Academy, Indiana University, dan Texas Tech University, mencatat total 902 kemenangan. Motion offense yang dia terapkan menekankan pada pemain post yang melakukan screen dan pemain perimeter melakukan pass sampai ada pemain yang mempunyai kesempatan terbuka untuk lay-up atau jump shot.

    Penggunaan motion offense paling sering ditunjukkan ketika Bob Knight menjabat sebagai pelatih kepala tim basket Indiana Hoosiers (1971-2000). Dia berhasil mencatat 661 kemenangan bersama Indiana Hoosiers, dan berhasil meraih 3 kali juara NCAA. Dia juga pernah 4 kali terpilih sebagai Coach of the Year. Knight juga pernah melatih tim nasional basket Amerika dan meraih medali emas di Olimpiade 1984. Di dalam skuad Olimpiade tersebut terdapat banyak pemain terkenal seperti Chriss Mullin, Patrick Ewing, dan Michael Jordan.

    Pada saat ini, motion offense sering digunakan di berbagai tim bola basket sekolah, universitas, dan tim profesional.

    15 October 2009

    Dribble Weave Drill

    Tingkat kesulitan

    :

    Menengah

    Skill yang dipelajari

    :

    Passing, dribble, lay-up, stamina

    Jumlah pemain yang dibutuhkan

    :

    Minimal 3

    Jumlah bola yang dibutuhkan

    :

    Minimal 1

    Waktu penerapan

    :

    Awal latihan

    Instruksi

    Pemain dibagi tiga kelompok di baseline. Salah satu kelompok berdiri di bawah ring basket, sedangkan dua kelompok lainnya berdiri sekitar 1 meter dari garis sideline.

    Pemain yang berada di tengah (O1) memulai dril ini dengan melemparkan bola ke papan ring basket, kemudian melakukan rebound dan dilanjutkan dengan outlet pass ke salah satu pemain yang berada di sidelline (O3).

    (a)

    (b)

    (c)

    (d)

    Gambar 1 Dribble Weave

    Setelah O1 melakukan pass bola maka pemain tersebut berlari melalui bagian belakang O3 untuk menggantikan posisi O3 yang menerima bola, sedangkan O3 yang menerima bola melakukan pass ke pemain O2 dan kemudian berlari melalui bagian belakang O2. Selanjutnya O2 melakukan pass ke O1 dan diteruskan dengan berlari melalui bagian belakang pemain O1. Selengkapnya lihat Gambar 1.

    Gambar 2 Posisi akhir pemain

    Pola tersebut diulangi sampai mendekati ring basket sehingga pemain terakhir yang menguasai bola melakukan lay-up. Pemain yang melakukan lay-up (O3) dan pemain terakhir yang melakukan pass (O1) kemudian terus berlari ke masing-masing sideline, sedangkan seorang pemain yang lain harus melakukan rebound sebelum bola menyentuh lantai sehingga posisi akhir ketiga pemain seperti yang terlihat pada Gambar 2. Drill ini dapat diulangi dengan berlari ke arah ring basket lainnya.

    Drill dribble weave ini sedikit berbeda dengan weave biasanya karena setiap kali setelah melakukan pass pemain yang menerima pass setidaknya harus melakukan sekali dribble sebelum kembali melakukan pass ke pemain lainnya.

    Pastikan pemain melakukan setiap pass dengan benar dan awasi semua pemain dari pelanggaran travelling. Sebagai permulaan, lakukan drill ini dengan tempo lambat, pemain tidak harus melakukan sprint dengan kecepatan penuh, tapi batasi jumlah pass yang dilakukan adalah 4 kali. Jika pemain sudah mulai lancar, tingkat kesulitan bisa ditingkatkan dengan memberikan batasan waktu, sehingga pemain akan berlari lebih cepat.

    Variasi dari drill ini adalah dengan memerintahkan pemain yang telah melakukan lay-up untuk segera kembali ke ring basket semula untuk melakukan defense, dan dua pemain lainnya segera melakukan rebound dan offense sehingga menciptakan situasi fast-break 2-on-1.